Open top menu
Kamis, 30 Juli 2015

♫ Da aku mah apa atuuuhh.... ♫ Sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan oleh seorang pengamen jalanan di kedai kaki lima pinggiran jalan. Kemudian saat itu juga, sepasang kawan yang sedang menikmati hidangan di kedai kaki lima tersebut pun saling melirik sambil berbisik, "Ada receh engga?". Ditelusurinya tas kecil yang dibawa oleh salah satu kawan tersebut dengan satu tangan, lalu diberikannya uang koin pecahan 500 rupiah ke pengamen tadi setelah ia menemukan uang koin tersebut di dalam saku tas. 

Receh, identik dengan uang dengan nominal kecil, baik itu uang kertas maupun uang logam atau koin. Biasa digunakan untuk kembalian berbelanja, sumbangan kepada pengamen, pengemis, atau kotak-kotak yang biasa disediakan di tempat penggalangan dana.

Nominal yang kecil membuat koin jarang digunakan atau dilirik oleh orang sebagai alat transaksi utama. Seringkali dilupakan atau dipandang kurang berguna. Berapa kali kita pernah melihat uang koin yang terdampar di lantai rumah atau jalanan, dan berapa kali juga kita melewatkannya begitu saja. 

Berbeda halnya ketika kita melihat selembar uang kertas pecahan Rp 100.000,- yang tergeletak di sisi jalan trotoar. Langsung dengan sigapnya, sebagian orang mendekatinya dan melakukan trik sulap untuk memindahkan uang tersebut dari sisi jalan menuju saku celananya.

Mengapa harus membiarkan uang koin sendirian dan kesepian di lantai rumah atau jalanan? Mengapa uang Rp 100.000,- begitu mudahnya menarik perhatian kebanyakan orang? Mengapa menggunakan receh untuk berbuat baik (beramal) atau membantu orang yang sedang membutuhkan bantuan? Apakah berat untuk berbagi dengan orang lain yang lebih membutuhkan padahal kita mampu untuk melakukannya? Apakah uang koin yang tergeletak di lantai jalan tidak lebih berharga dibandingkan uang Rp 100.000,- yang masih mulus?

Keresahan dan pertentangan terhadap fenomena tersebut menggerakan sebagian orang lainnya untuk berdiam, berpikir dan bergerak. Berdiam diantara keberlangsungan fenomena yang selalu terjadi. Berpikir dalam-dalam, melihat, menimbang, dan memutuskan. Memutuskan untuk bergerak, melakukan satu tindak nyata dan mengajak orang banyak karena apa yang sudah diputuskan bukanlah pergerakan negatif yang bersifat destruktif, namun sebuah pergerakan alami atas dasar nurani dan naluri kemanusiaan yang bermaksud membantu menciptakan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan.

Berawal dari koin, membuat sebagian orang yang peduli terhadap lingkungan sosial tempat mereka tinggal sadar bahwasanya melakukan hal baik yang dapat membantu orang yang membutuhkan bantuan tidaklah harus selalu (hanya) menggunakan uang-uang receh saja. Jika ingin berbuat baik, dengan niat yang tulus dan ikhlas, maka lakukanlah, berkorbanlah, dan lanjutkanlah. 

Uang receh tidak selalu menjadi receh dengan nilai kecil. Recehan diyakini oleh sebagian orang dapat menjadi satu kekuatan yang bermanfaat jika dikumpulkan dan diolah dengan baik secara benar. Sama halnya sapu lidi yang dapat digunakan banyak hal akan terasa manfaatnya ketika mereka (lidi) dikumpulkan dan dibentuk dengan baik secara benar.

Berbekal niat untuk membantu orang yang membutuhkan bantuan, sebagian orang yang peduli terhadap lingkungan sosialnya mulai melakukan aksinya dengan mengumpulkan koin demi koin, sedikit demi sedikit, hingga pada akhirnya terkumpulah segerombolan koin yang siap untuk memenuhi seluruh saku di celanamu. 

Lalu sebagian orang tersebut menyihirnya menjadi sesuatu yang dapat dirasakan langsung oleh penerimanya. Makanan, sekotak kecil makanan ringan ditemani beberapa ratus mililiter air minum menjadi senjata utama dalam menumpas sedikitnya kekurangan yang dimiliki oleh orang-orang yang membutuhkan. Lebih khususnya, orang-orang yang membutuhkan adalah orang yang memiliki hambatan atau kesulitan dalam menjalani aktivitas kehidupannya. 

Diwujudkannyalah sebuah pergerakan kecil, di sekitaran jalan kecil, dengan kantong plastik kecil. Berharap apa yang dilakukan bisa menjadi jawaban akan keresahan terhadap fenomena uang receh yang terjadi. Kemudian berangkatlah sebagian orang tersebut mewujudkan harapannya, untuk bergerak, atas dasar kemanusiaan.
Tagged
GIPScommunity
Written by GIPScommunity

Bergerak atas dasar asas kemanusiaan.

0 komentar